Yup, jelas tidak ada yang bisa mengetahui kapan ajal seseorang
tiba dan pada usia berapa, karena hal tersebut adalah takdir yang berada diluar
kendali kita sebagai manusia.
Seperti yang sudah jamak kita diketahui, tertawa itu menyehatkan,
namun, ada hal yang menarik untuk disimak, mengapa cukup banyak pelawak yang
usianya relatif pendek, sebut saja diantaranya almarhum Dono (50 tahun), Kasino
(47), Taufik Savalas (41), dan Ade Namnung (34).
Memang, kita belum bisa menarik kesimpulan akhir, membuktikan ada
tidaknya atau seberapa besar hubungan profesi pelawak dengan usia yang relatif
pendek, karena jumlah penelitian mengenai hal tersebut relatif sedikit
dibandingkan dengan penelitian psikososial lainnya.
Salah satu penelitian yang sangat menarik dan menemukan fakta yang
mengejutkan terkait hal ini adalah penelitian psikolog Amerika, Howard S.
Friedman dari University of California dan Leslie R. Martin dari La Sierra
University, yang dipublikasikan dalam buku “The Longevity Project: Surprising
Discoveries for Health and Long Life from the Landmark Eight-Decade Study” yang
diterbitkan oleh Hudson Street Press pada tahun 2011 yang lalu.
Penelitian yang memakan waktu 20 tahun ini, mengamati tumbuh
kembang 1500 orang mulai saat mereka berusia rata-rata 10 tahun hingga mereka
berusia 70an.
Salah satu penemuan yang mengejutkan dari penelitan ini adalah
usia subjek penelitian yang periang dan paling humoris relatif pendek daripada
subjek penelitian yang tidak begitu humoris dan periang (cenderung serius).
Friedman menjelaskan hal ini disebabkan oleh kekurang hati-hatian
(kurang perhatian) orang yang periang dan humoris terhadap kesehatannya, yang
biasanya selalu merasa semuanya akan baik-baik saja (tidak menyukai
“pantangan-pantangan”).
Sedangkan mereka yang cenderung serius (prudence) dan gigih,
biasanya suka memperhatikan baik atau tidaknya gaya hidup yang mereka jalankan
bagi kesehatannya.
Selain penjelasan Friedman diatas, hipotesa yang masuk akal adalah
kondisi dilematis yang dihadapi para pelawak, yaitu adanya unsur pemaksaan
untuk tertawa atau membuat orang tertawa karena tuntutan profesi.
Padahal kondisi metabolisme tubuh yang sedang gembira sangat
berbeda dengan kondisi tubuh yang sedang tidak mood. Pertentangan antara “emosi
palsu” dengan “emosi sebenarnya” ini dapat memicu stress dan depresi yang tidak
baik bagi kesehatan.
Sudah seharusnyalah kita melakukan segala sesuatunya dengan seimbang
(sesuai dengan kadarnya) atau tidak berlebih-lebihan, serta memperhatikan gaya
hidup kita dengan baik.
Semoga bermanfaat,
