Minggu, 18 November 2012

Mengapa Cukup Banyak Pelawak Yang Usianya Relatif Pendek?


Yup, jelas tidak ada yang bisa mengetahui kapan ajal seseorang tiba dan pada usia berapa, karena hal tersebut adalah takdir yang berada diluar kendali kita sebagai manusia.
Seperti yang sudah jamak kita diketahui, tertawa itu menyehatkan, namun, ada hal yang menarik untuk disimak, mengapa cukup banyak pelawak yang usianya relatif pendek, sebut saja diantaranya almarhum Dono (50 tahun), Kasino (47), Taufik Savalas (41), dan Ade Namnung (34).
Memang, kita belum bisa menarik kesimpulan akhir, membuktikan ada tidaknya atau seberapa besar hubungan profesi pelawak dengan usia yang relatif pendek, karena jumlah penelitian mengenai hal tersebut relatif sedikit dibandingkan dengan penelitian psikososial lainnya.
Salah satu penelitian yang sangat menarik dan menemukan fakta yang mengejutkan terkait hal ini adalah penelitian psikolog Amerika, Howard S. Friedman dari University of California dan Leslie R. Martin dari La Sierra University, yang dipublikasikan dalam buku “The Longevity Project: Surprising Discoveries for Health and Long Life from the Landmark Eight-Decade Study” yang diterbitkan oleh Hudson Street Press pada tahun 2011 yang lalu.
Penelitian yang memakan waktu 20 tahun ini, mengamati tumbuh kembang 1500 orang mulai saat mereka berusia rata-rata 10 tahun hingga mereka berusia 70an.
Salah satu penemuan yang mengejutkan dari penelitan ini adalah usia subjek penelitian yang periang dan paling humoris relatif pendek daripada subjek penelitian yang tidak begitu humoris dan periang (cenderung serius).
Friedman menjelaskan hal ini disebabkan oleh kekurang hati-hatian (kurang perhatian) orang yang periang dan humoris terhadap kesehatannya, yang biasanya selalu merasa semuanya akan baik-baik saja (tidak menyukai “pantangan-pantangan”).
Sedangkan mereka yang cenderung serius (prudence) dan gigih, biasanya suka memperhatikan baik atau tidaknya gaya hidup yang mereka jalankan bagi kesehatannya.
Selain penjelasan Friedman diatas, hipotesa yang masuk akal adalah kondisi dilematis yang dihadapi para pelawak, yaitu adanya unsur pemaksaan untuk tertawa atau membuat orang tertawa karena tuntutan profesi.
Padahal kondisi metabolisme tubuh yang sedang gembira sangat berbeda dengan kondisi tubuh yang sedang tidak mood. Pertentangan antara “emosi palsu” dengan “emosi sebenarnya” ini dapat memicu stress dan depresi yang tidak baik bagi kesehatan.
Sudah seharusnyalah kita melakukan segala sesuatunya dengan seimbang (sesuai dengan kadarnya) atau tidak berlebih-lebihan, serta memperhatikan gaya hidup kita dengan baik.
Semoga bermanfaat,